aku selalu menemukan dirimu
tak hanya pada helai-helai rambutmu
yang terserak di lantai atau meja rias
selalu aku teringat padamu
setiap melihat iklan di televisi
atau sinetron dengan wajah cantik
ada tawa yang menjelma tawamu
ada senyum yang menggoda kenanganku
kutulis ini saat aku sendirian
lampu kamar sengaja kumatikan
hanya ada semburat cahaya dari pintu
dan asap rokok membentuk bayang muram
di tengah dinginnya kopi yang tinggal separuh
dalam kata masih kurasakan suaramu
yang lembut dan selalu membuatku tergugu
aku ingat sering kau katakan aku merayu
padahal itu benar belaka seperti kumpulan kata
dalam kesendirian ini tiba-tiba ada sedih
teringat katamu yang membuat beku jadi mendidih
tentang inginmu berpisah
agar kita bisa menghampakan sapa
tak lagi ada pesona yang pasti bohong belaka
aku mengenal diriku sendiri
tak cuma sebagai penyair tapi juga laki-laki
dengan ketidakberdayaan untuk kehilanganmu
karena kau tak cuma sekedar kata
tapi puisi itu sendiri
aku mengunyah sendiri ini
dengan isak lirih
siang, 27Okt 08