natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Oct
28th

Bermula dari Kegelisahan…

Files under JejakBerita, Sastra - Budaya | Posted by Yo

Acara Sastra Reboan pada awalnya kadang disebut Pasar Malam. Hal ini karena suasana yang tersaji mirip pasar malam, dengan berbagai aksi sastra di panggung Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan. Tapi sebutan itu juga disebabkan Sastra Reboan diselenggarakan oleh para pencinta sastra yang tergabung dalam Paguyuban Sastra Rabu Malam, yang disingkat dengan PaSar MaLam.
Ide pembentukan paguyuban ini bermula dari kegelisahan seorang penyair, Johannes Sugianto, akan kurangnya ruang bagi para pencinta sastra untuk mengapresiasi dan berekspresi. Padahal tumbuhnya blog-blog seiring kemajuan internet saat ini juga turut mendorong kecintaan terhadap sastra. Pada tahun 2007 saja tercatat lebih dari 130.000 blog telah dibuat di Indonesia.
Namun di satu sisi, sastra masih dianggap bidang yang serius, kaku, bahkan menyeramkan. Maklum, mereka belajar sendiri alias otodidak dalam menulis puisi atau cerpen. Persinggungan dengan para pelaku sastra juga kurang, karena minimnya acara yang bisa didatangi selain waktu yang memang menjadi kendala utama di kota metropolitan ini.
“Sejak lama saya ingin adanya acara sastra yang bisa dinikmati dengan enak, tanpa dahi berkerut dan menjadikan sastra sebagai sosok yang akrab. Di situ para pencinta sastra berkumpul, tak peduli mereka masih baru atau malah belum tahu apa itu puisi. Tak peduli mereka dari komunitas anu, kelompok anu dan sebagainya,” ucap Yo, panggilan Johannes Sugianto yang sehari-hari bekerja sebagai staf PR sebuah industri terigu.
Gagasan ini lalu disampaikan Yo kepada Dian Ilenk yang sering menulis resensi buku dan Jonathan Raharjo penulis novel Lanang. Yo lalu bertemu dan mendapat respons hangat dari Yoyik Lembayung, salah satu pimpinan Wapres yang memberi waktu setiap hari Rabu di akhir bulan. Tak menunggu lama, berkumpullah Yo bersama Yonathan, Dian, Zai Lawanglangit, Budhi Setyawan, Dedy Tri Riyadi, Nina Yuliana, Sahlul Fuad dan Setio Bardono di TIM. Saat itu, Maret 2008, disepakati pembentukan PaSar MaLam dengan agenda awal Sastra Reboan di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan.
”Tak muluk-muluk kok, hanya ingin menjadikan sastra lebih dekat dengan masyarakatnya,” ujar Johannes Sugianto yang saat ini sedang mempersiapkan buku puisinya ke 2 dan akan diluncurkan oleh Pasar Malam Pustaka.
Paguyuban sastra ini tak hanya ingin mempunyai kegiatan Sastra Reboan, tapi juga mengadakan pelatihan menulis, menerbitkan majalah sastra, buku-buku sastra, dan menggiatkan sastra bersama komunitas lainnya.“Hal-hal itu dibahas dalam pertemuan rutin setiap bulan, usai Reboan digelar, yang membicarakan berbagai program PaSar MaLam dan juga evaluasi serta persiapan acara Reboan. Di sini kadang ada beda pendapat, tapi tetap terselesaikan dengan baik dengan hasil yang disepakati bersama,” tutur Zai Lawanglangit yang bekerja sebagai art creative.
Pertemuan ini berlangsung di tempat yang tidak tetap, seperti di Wapres, di rumah anggota dalam rangka mempererat hubungan dengan keluarga masing-masing dan juga di tempat wisata yang melibatkan anak-anak. Seperti Reboan, biaya pertemuan dilakukan dengan sistem saweran alias patungan, kecuali jika di rumah anggota seperti di rumah Yo atau Budhi Setyawan.
Namun Reboan memang tidak menjadi satu-satunya program PaSar MaLam, karena saat ini persiapan ke arah bentuk lainnya sebagai kiprah nyata di dunia sastra telah digodok cukup matang. Semisal pelatihan menulis yang akan dimulai Desember mendatang, penerbitan majalah sastra dan juga buku memperingati setahun Reboan. Begitu juga jalinan kerja sama dengan komunitas sastra lain serta sekolah-sekolah menengah. Untuk kegiatan di luar Reboan, diberlakukan kerja sama dengan pihak lain dalam bidang pendanaan yang tidak membengkokkan visi dan misi PaSar MaLam sebagai suatu paguyuban.
Visi paguyuban ini adalah ‘Mendekatkan Sastra kepada Masyarakat”, dengan Misinya adalah Menjadikan acara sastra sebagai bagian dari gaya hidup semua, Menjadikan acara sastra yang terbuka bagi siapa saja dan Menjadikan acara sastra sebagai budaya dan bagian kehidupan.
Memang tak mudah untuk mewujudkan kegiatan komunitas ini. Tapi jika tidak berani untuk memulai, melakoninya, segala yang tertulis dengan indahnya hanya akan tinggal kata-kata semata. “Saya dan teman-teman mencoba membuat sesuatu yang nyata, meski hanya jadi sebutir kerikil saja, tapi ini lebih baik daripada berteori atau debat di milis-milis,” ucap Nina Yuliana, bagian acara yang sehari-hari bekerja di salah satu sekolah swasta terkemuka di bilangan Jakarta Selatan.
Kini, bersama pencinta sastra lainnya yang menjadi tenaga baru seperti Pakcik Ahmad, Weni Suryandari, Hujan Saja, Wiwiek, Nurdin dan Nas, PaSar MaLam terus meniti langkahnya untuk memberikan sesuatu bagi dunia sastra Indonesia. (Klow)

Sumber : Warta Kota, 28 Oktober 2008

http://www.wartakota.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=9725

Post a Comment