Dari Sastra Reboan#8
RENDRA : TAK CUKUP HANYA PEDULI TAPI HARUS TERLIBAT
Semua kreativitas seni, tidak hanya puisi, menurut Suluk Demak harus muncul dari ‘kahanan’. Kreator harus selalu berada dalam keadaan, tidak berada dalam khayalan, tidak dalam teori tapi masuk dalam kahanan itu dengan modal kepedulian. Dengan demikian dia akan mendapatkan pergaulan kharismatik, masuk dalam kontekstualitas.
Tapi ini tidaklah cukup, kita harus merangkul, terlibat. Dengan kata lain, keterlibatan itu mengakibatkan pengalaman pribadi. Kalau itu muncul dalam kesadaran itu namanya paradigma. Kalau hanya sekedar indah dan penuh rasa, itu banyak. Tapi dengan paradigma akan lebih unggul, apalagi jika dikaitkan dengan nilai-nilai universal. Semakin kontekstual, semakin tampak paradigmanya, tidak hanya wawasannya yang tampil.
Demikian disampaikan oleh W.S Rendra ketika menyampaikan pidatonya di akhir acara Sastra Reboan#8 yang seperti biasa berlangsung di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, kemarin (26/11). Di awal pidatonya Rendra yang mengenakan jeans da jaket biru ini menoleh ke latar panggung yang bertuliskan Paguyuban Sastra Rabu Malam. Slogan “Banyak Pintu Menuju Sastra” dikomentarinya “Ini yang pertama menarik perhatian saya. Ternyata puisi terus hidup hingga sekarang”.
Lebih dari seratus penonton memadati Wapres, termasuk Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, meski hujan sejak sore mengguyur berbagai sudut Jakarta dan sempat membuat cemas panitia. Para penonton ini tak beranjak dari saat acara dimulai molor jam 20.00 hingga berakhir pukul 23.00 wib.
Sastra Reboan#8 kali ini menampilkan beberapa alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang ingin berkumpul dan membaca puisi di acara ini. Dikomandoi oleh Slamet Widodo dan Nugroho Suksmanto, persiapan tampil di Sastra Reboan terus digodok dengan Kurnia Effendi, cerpenis flamboyan yang menghubungi kalangan alumni ITB untuk berpartisipasi. Penyair kondang, Acep Zamzam Noor yang sudah siap tampil, tidak jadi datang karena ada acara yang tak bisa ditunda.
Selain para alumni ITB, Sastra Reboan juga menampilkan beberapa pembaca puisi, penyanyi Fia dan geguritan (pembacaan puisi dalam bahasa Jawa) oleh grup gending Sri Redana Laras. Penampilan geguritan dari syair karya Ronggowarsito yang dipimpin Sugito ini cukup menarik perhatian. Para penembangnya anak muda dari yang masih SMP hingga mahasiswi. Bahkan salah satunya, Wulan bukan orang Jawa tapi Betawi asli. Di tengah geguritan ini Sutardji Calzoum Bachri tiba.
Acara yang dibuka oleh MC Budhi Setyawan, yang kali ini didampingi penyair Rukmi Wisnu Wardani, diawali dengan penampilan Triana Kumalasari, Dian Ayu dan Mhammad Nurdin. Ketiga siswa SMA Martia Bakti, Bekasi ini tampil penuh percaya meski ada Sujiwo Tejo dan para penyair ternama lainnya. Begitu juga Sasib Negaraja dari Komunitas Sastra Jalanan Indonesia, Gemmy Mohawk (yang juga memperkenalkan buku puisinya ‘Sirami Jakarta Dengan Cinta”), Kuntet Mangkudilaga dan Een Nurhaeni, mahasiswi jurusan Broadcasting.
Menjelang jam 21.00, Kurnia Effendi yang akrab disapa Kef menggantikan Budi dan Dani untuk memandu para alumni ITB. Nugroho Suksmanto dan Slamet Widodo lalu tampil dalam Bincang Sastra dan Komunitas (BSK) tentang latarbelakang berkumpulnya alumni ITB ini. “Ternyata banyak alumni itb berkecimpung juga di tulisan dan syair. Lewat acara di Sastra Reboan ini diharapkan memberikan rangsangan pada sarjan ITB untuk juga bisa menyukai sastra” ujar kedua tokoh Pena Kencana itu.
Militansi
Usai BSK, Kef yang masih di panggung membacakan puisi, disusul Prof. Danuswara yang ahli lingkungan kota dan guru besar ITB dengan dua puisinya “Jalan” dan “Kampung Kota’. Kemudian Teguh Haryono membacakan dua puisi juga, yang dikomentarinya sebagai pembacaan puisi pertama kali di Wapres.
Fadjroel rahman membacakan 2 puisi berikutnya, salah satunya sering dibawakannya, “Dongeng Untuk Popy”. Mantan aktivis ini memberikan gambaran bahwa mahasiwa ITB berkumpul dan mendirikan semacam komunitas sastra dng singkatan GAS, yang kadang juga diplesetkan menjadi Gerakan Anti Suharto krn pada waktu itu gerakan menentang Suharto bisa juga direfleksikan dengan berteriak di lapangan basket dalam bentuk apresiasi puisi.
Berikutnya Nugroho Suksmanto membacakan 2 puisi “Jilbab” dan “Pantat”, diikuti Lukman SH pelukis dan penyair yang membawakan puisi “Ganesha” dan dibuatnya saat berusia 27 tahun.
Dari deretan penonton tampak penyair Dharmadi, Endah Perca, Rita Achdris, Imam Maarif, Teguh Esha, Ramon Damora, Purwianto dan beberapa aktivis sastra dari Universitas Atmajaya dan Universitas Bung Karno.
Di tengah pembacaan puisi, penyanyi Fia yang mengaku sejak 2004 dibesarkan di Wapres tampil membawakan lagu “Ada Rindu Ada Cemburu” mendampingi Slamet Widodo. Penyair yang buku terbarunya ‘Selingkuh” ini membuat penonton cengengesan ketika membawakan puisi “Susu” yang di tengah pembacaan terselip kalimat ‘ah..mosok” dan ditirukan penonton.
Sebelum Sujiwo Tejo tampil, Sadewa yang putera WS Rendra naik ke panggung membaca “Cinta yang Bersandar di Sebuah Perahu” dan “Aku dan Gitarku”, disusul Rara Gendis serta alumni ITB, Krismanggolo membawakan puisi karya Bung Karno “Nasionalis Revolusioner”.
Penampilan puncak acara, Sujiwo Tejo tak pelak membuat pengunjung tergelak dengan komentar nakalnya di sela pembacaan sajak dan lagunya. Dengan ringannya saat membawakan sajak “Anyaman” Sujiwo Tejo sempat mengisahkan sebagian petualangan cinta Rendra yang membuat banyak penyair lainnya semisal Emha Ainun Najib terkagum-kagum. Sedang para alumni ITB yang membaca puisi malam itu disentilnya karena ternyata tak berani mengambil resiko menjadi seniman murni seperti dirinya, yang disambut tawa pengunjung.
Di akhir acara, Slamet Widodo yang berbincang dengan Sutardji Calzoum Bachri menjelaskan bahwa Presiden Penyair ini terkesan dengan Sastra Reboan. “Saya sudah mendengar acara ini, tapi belum sempat dating. Terus terang, acara seperti ini bagus dan dibutuhkan. Sudah berlangsung secara rutin menunjukkan komunitasnya hidup. Tapi tanpa militansi penyelenggaranya, pastilah tak akan berjalan”.
Sampai bertemu di Sastra Reboan #9 tanggal 17 Desember mendatang. (ilenk/gie)
Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/27/20025773/rendra.tak.cukup.peduli.harus.terlibat