Sastra Reboan #9 :
DUNIA SASTRA MASIH DICENGKERAM DOMINASI
Dunia sastra 2008 tidak mencatat peristiwa penting yang terjadi. Kita masih mewarisi perlawanan penyingkapan apa yang kita kenal dengan kebohongan, manipulasi yang dilakukan oleh mereka yang dominan. Suara-suara kritis seperti terbenam, karena mereka tidak merasakan telah mendominasi.
Apa yang dilakukan oleh Saut Situmorang lewat kritikan-kritikannya terhadap dominasi suatu lembaga [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh: ilenk_rembulan
Kali ini kumpulan puisi yang berjudul otobiografi ([sic] November 2007) dari penyair Saut Situmorang yang berisi puisi-puisi yang diramunya dalam kurun waktu 1987-2007, dengan tebal halaman 282 dan total jumlah puisi sebanyak 184 buah, saya jelajahi dalam penerawangan mata hati seorang awam.
Memasuki alam pikiran seorang Saut, bagi yang belum mengenal secara luas bagaimana dia [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
ada banyak sampah
kusemburkan di wajahmu
meski kubilang itu bukan
tapi bagimu tetaplah sampah
kau kibaskan dari baju
sambil tak henti meludah
jemarimu menusuk hati
dan menjelma serapah
ada banyak pedih
yang sengaja kutelan
karena terasa wangi
setidaknya buatku sendiri
tapi kau tak ingin tahu
usai sampah itu berserak
menyengat dan merebak
kau begitu saja beranjak
malam, 15 12 08
baca selengkapnya |
No Comments »
di balik pagi dengan mendung
badai baru saja menggantung
saat malam sedang nyenyak
dan gelisah terus menyeruak
bagaimana bisa puisi ada
bila baitnya kembali retak
saat menata kata demi kata
dan tetap saja tak pernah usai
menatap pagi dengan muram gerimis
penyair menghitung lukanya
yang tak kunjung
karena terus saja teriris
diingatnya dua puisi
yang ditulis dengan cahaya
dan menjadi penerang saat terantuk
meraba dinding di lorong-lorong
dan ia tahu akan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
entah seperti apa lukisan
yang ada di hatimu
tak kulihat bentuknya
sekilas hanya warna memucat
seperti kenangan yang lewat
tapi ada garis lengkung
di bola matamu yang termenung
dengan merah dan biru
yang tak kau katakan artinya
lalu kucoba tulis puisi
tentang sepi menyapa sunyi
“itu lukisan hatiku” katamu
sambil mengusap setetes embun
yang membasahi kertas itu
malam, 11 12 08
baca selengkapnya |
No Comments »
biarkan angin mampir
membawa pesan gerimis
yang tak sempat hadir
dengan tetes sayang di matanya
lihatlah dengan kata hati
tak ada yang berubah
meski waktu terus menikam
hingga kadang tawa menjelma diam
mugkin akan kau lihat juga
kilatan di pucuk tetesan itu
ada sesuatu yang tak akan pernah
bisa dimengerti akan ikatan
seperti juga sebuah pertemuan
di akhir juni dengan bait-bait hujan
biarkan semua mengalir
bersma angin yang mendesir
pagi, 10 [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh : LINDA CHRISTANTY
Tahun ini, tepat 10 tahun Ayu Utami menulis Saman, novel yang dianggap memberi tafsir baru terhadap tubuh perempuan, seks, dan seksualitas dalam sastra kita.
Dalam Saman, untuk pertama kalinya perempuan bebas bicara tentang hal terdekat dengan diri mereka dan sekaligus telah lama diceraikan dari mereka, yaitu tentang tubuh mereka sendiri. Dan tubuh ibaratkan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
ada yang menerpa tiang perahu
pasti itu angin utara
yang tak sabar menanti kata-kata
hingga tanpa ada sapa terus melanda
“tanpa tiang kita akan melayang”, katamu
sambil mendekap buntalan berisi baju
dan kumpulan sajakku yang membisu
aku hanya mengangguk saja
sambil terus menatap nanar
mendung yang turut tiba
perjalanan terus mengayun ombak
dengan angin yang kadang menghentak
tiang itu masih tetap menemani
hingga perahu menepi
sambil memungut sajak yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Selasa, 28 Oktober 2008 | 22:09 WIB
oleh Asep Sambodja
“Tukang pidato adalah seniman,” kata Njoto alias Iramani, menerjemahkan pernyataan Multatuli, “Ook de redenner is een kunstenaar.” Paling tidak, DN Aidit yang dikenal dunia internasional sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) itu juga menulis puisi.
Ada sembilan puisi DN Aidit yang terdapat dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Senin, 1 Desember 2008 | 12:46 WIB
Laporan Wartawan Kompas Yurnaldi
DEPOK, SENIN — Di zaman Kerajaan Majapahit karya sastra yang digubah para pujangga-agamawan berkembang dengan semarak. Beberapa karya sastra penting yang disusun zaman itu adalah Nagarakrtagama, Arjunawijaya, dan Sutasoma.
Ada juga Pararaton, yang digubah dalam zaman yang lebih kemudian, tapi masih mengacu kepada kemegahan Majapahit. Namun, bentuk [...]
baca selengkapnya |
No Comments »