di balik pagi dengan mendung
badai baru saja menggantung
saat malam sedang nyenyak
dan gelisah terus menyeruak
bagaimana bisa puisi ada
bila baitnya kembali retak
saat menata kata demi kata
dan tetap saja tak pernah usai
menatap pagi dengan muram gerimis
penyair menghitung lukanya
yang tak kunjung
karena terus saja teriris
diingatnya dua puisi
yang ditulis dengan cahaya
dan menjadi penerang saat terantuk
meraba dinding di lorong-lorong
dan ia tahu akan berulang
badai demi badai
bayang demi bayang
di persimpangan hatinya
pagi, 15 12 08