coba kau mengeja hari ini
saat tawamu tak kutemui
sedang daun-daun mongering
seperti hatiku yang kemarau
kenalilah gelisah dalam penantian
meliuk di tengah sahutan
yang menukik senyap di bukit
hingga gema menjelma pahit
malam yang kulewati
adalah kisah akan beribu tanya
tapi tetap kupahat cinta
meski dalam dirimu menjelma ragu
seperti puisi yang tak utuh
kujejaki esok dengan lukisan
meski beda pada kanvasnya
tapi tidak pada warna yang ada
karena yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
embun itu masih ada di jendela
saat kutuliskan namamu
dengan ucapan yang sama
seperti tahun lalu
tapi kau tak akan membaca
karena siapa aku juga samar
meski telah kudengar lamat
bisikmu bertanya tentang nama
berpuluh musim kulewati
dengan sepi menyapa sunyi
yang tak sempat kutulis jadi puisi
dan di situ terselip dirimu
terus kutulis di situ
sambil tak henti berucap
dalam kata yang senyap
sembari kubiarkan kering airmata
pagi, 10 02 [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Kamus, tata bahasa, mesin cetak, telepon, dan internet memperpesat pergaulan dan perkembangan kebudayaan modern. Pada masa lampau, jarak geografis dan perbedaan bahasa menjadi kendala interaksi antarmanusia dan kebudayaannya, tapi kemajuan peradaban membuat bentangan jarak geografis bisa disambungkan oleh teknologi komunikasi dan hambatan perbedaan bahasa dapat dijembatani oleh penerjemahan. Teknologi komunikasi memungkinkan dan mempercepat interaksi; dan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
aku tak mau menunggu
air mata yang kau katakan terakhir
karena serupa ranting terinjak pilu
bukan itu yang kuharapkan darimu
engkau selalu menjadi aku
dalam segala pertarungan
dengan tawamu di sepanjang senja
aku selalu menjadi engkau
dalam keluhan yang membosankan
dengan ketegaran yang melelahkan
mungkin buatmu aku hanya sodorkan ingin
dalam tepi lingkaran waktu
tapi seperti yang kau tahu
akan kukalahkan pertarungan ini
mungkin harapan ini terasa jauh
seperti cangkir [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
gagak hitam masih mengintai
matanya menggigilkan
desisnya membuat pagi lunglai
lelaki dengan karang di hati
menyapa dengna perih
yang tak sempat dijadikannya puisi
bukan salah gagak tak mau pergi
bukan salah pagi yang diam saja
bersama suka dan sisa air mata
pagi, 10 02 09
baca selengkapnya |
No Comments »
OASE BUDAYA
Cyber
by : Arie MP Tamba
Sastra cyber (internet) kini menjadi satu kategori pelabelan untuk produk sastra Indonesia setelah sastra majalah, sastra buku, dan sastra koran. Dari penamaannya yang diperluas berdasarkan media ungkapnya, segera jelas bahwa sastra cyber dikhususkan pada karya-karya sastra yang dipublikasikan di (atau disosialisaskan melalui) internet.
Meski, penamaan itu sendiri tidak serta-merta dapat diterima [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
Wole Soyinka
Dia adalah penulis hebat, secara teoritis dan praktis. Akinda Oluwole Soyinka atau lebih dikenal dengan Wole Soyinka bisa menulis apa saja: puisi, cerita, dan drama. Wole juga seorang akademisi di bidang sastra. Gelar sastra Inggrisnya diterima dari Universitas Leeds, Inggris pada 1957. Setelah kembali ke kampung halamannya, Nigeria, dia menjadi profesor di Universitas Lagos [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
OASE BUDAYA
Sihir Puisi di Jagad Maya
by : Dwi Fitria
Saatnya berselancar di medium sosialisasi sastra paling potensial.
Salah satu eksperimentasi sastra pertama yang dilakukan dengan menggunakan internet dilakukan oleh Douglas Anthony Cooper. Pada 1994, novelnya berjudul Delirium diposting secara berseri dengan menggunakan medium internet yang pada saat itu masih terhitung baru.
Menggunakan medium internet, Cooper yang mungkin belum [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
OASE BUDAYA
by : Grathia Pitaloka
Perkembangan sastra Indonesia mutakhir, diramaikan oleh semakin maraknya sastra cyber.
Dunia sastra kerap kali ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral dan hanya bisa dimasuki oleh kalangan tertentu. Menulis sastra diibaratkan seperti seorang empu yang tengah menempa keris sakti mandra guna, tidak sederhana dan melewati ritus-ritus khusus.
Namun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seketika menggunting [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Kamis, 5 Februari 2009 | 00:26 WIB
YOGYAKARTA, RABU–Musik puisi di Yogyakarta perlu dikembangkan dan bisa bersanding dengan musik populer. Terlalu sayang jika tidak ada regenerasi orang yang mau intensif bergelut dengan musik puisi. Di tangan generasi mudalah, tongkat estafet musik puisi berada.
Hal itu dikemukakan seniman musik puisi Aloysius Untung Basuki, usai bermain dalam Konser Untung [...]
baca selengkapnya |
No Comments »