aku tak mau menunggu
air mata yang kau katakan terakhir
karena serupa ranting terinjak pilu
bukan itu yang kuharapkan darimu
engkau selalu menjadi aku
dalam segala pertarungan
dengan tawamu di sepanjang senja
aku selalu menjadi engkau
dalam keluhan yang membosankan
dengan ketegaran yang melelahkan
mungkin buatmu aku hanya sodorkan ingin
dalam tepi lingkaran waktu
tapi seperti yang kau tahu
akan kukalahkan pertarungan ini
mungkin harapan ini terasa jauh
seperti cangkir yang rapuh
tak mampu menampung tuangan gerimis
tapi semua ini akan tetap ada
tenggelam dalam lembah suaramu
menjadi gemericik tatapan matamu
siang, 11 02 09