Rabu, 25 Februari 2009
Kunjunganku Ke Jakarta Bahagian I
Catatan Dato’ Kemala
Pada 27 Januari aku terbang ke Jakarta dari LCCT Kuala Lumpur menumpangi pesawat Air Asia dalam rangka Baca Puisiku di Reboan, Bulungan. Sahabatku terdekat tau aku akan datang sudah konfirmasi ke Bung Johannes dan Ikranagara. Biasanya aku menaiki KLM tetapi pesawat Belanda ini sejak akhir-akhir ini mengalami gendala beberapa kali koneksi di London dan tiba di Kuala Lumpur lepas dari jadual asalnya. maka aku tersadai dua jam di bangku tunggu Bandara Soekarno-Hatta.
Maka itulah sebabnya kali ini aku naiki Air Asia yang kian bagus servisnya dan harganya tidak terlalu mencekik. Aku datang ke akarta dalam pengetahuan pimpinan Reboan dan sahabatku Ikranagara. Ada tiga hasrat sebenarnya, mau buktikan bahwa Reboan bersedia menerima penyair Malaysia mengisi acaranya. Kedua hasratku mau menghubungkan Reboan dengan e.sastera agar menjadi jambatan silaturahmi dan kerjasama seni budaya-sastera yang lebih padu. Dan juga semoga akan wujud aktiviti bersama yang lebih mendasar: maknanya dalam kata-kataku perteguhkan persamaan dan nipiskan perbedaan. Pada jam empat aku sudah tiba melintasi imigrasi dan siap membuking taksi dan hotel hampir TIM.
Biasanya aku menginap di Pondok Putri Duyong, Paragon ataupun di Alia di depan TIM. Olehkarena penuh maka nginap saja di Geren Alia. Makan malamku ditemani oleh Ketua Reboan penyair-aktivis Johannes Sugianto. Asalnya aku menduga apakah dia ada hubungan apa-apa dengan Lintang Sugianto, salah seorang ahli e.sastera, ternyata tidak. Orangnya simpatik, dan ternyata ada aura yang menjadikannya disenangi oleh anggota PaSaR MaLaM -Reboan ataupun Apsas. Dia orang kepercayaan Cak Sonny Bono Ketua Apsas itu.
Apabila Sonny turun dari Surabaya mau ketemu penulis-penulis baru dan lama di Jakarta, dengan cara dan gayanya Yo (nama panggilannya) boleh menghimpunkan walaupun dalam kadar waktu yang singkat. Wah, bukankah Yohannes sudah terpandang sebagai pemimpin penulis di kota kosmopolitan ini.
Dia sebenarnya bergerak dalam bisnis yg sibuk dengan graf turn naik keuntungan tetapi sejak beberapa tahun lalu, dia sudah terpikat dengan puisi dan berhasil menerbitkan kumpulan puisi pertamanya Di Lengkung Alis Matamu (2004) terbitan dari wang sakunya sendiri. “Hahaha, isteriku kurang suka aku menggunakan nama Johannes,” katanya sambil membetulkan letak topinya yang terkulum rendah. Kalau dia membuka topinya nampak lebih luas dahinya, terlihat lebih cakep lagi. “Wah risau juga nih, sebab Cak Bono minta lihat soal dana untuk ulangtahun Apsas..”
Aku merasa tentu dia sudah berusaha ke sana sini hanya tinggal beberapa hari lagi. Deringan hpku mengganggu bualan kami itu. Di ujung sana suara Ikranagara “Maaf ya Kemala, aku di sini sibuk-sibuk dengan renovasi, ada yang bocor dari atas..aku tak sempat datang..karena mesti mengawasi tukang yang bekerja..”
Nah, katanya apartemennya itu di lantai 25 yang eksklusif, dia mengajakku tinggal bersamanya, Yohannes juga mengajak juga tapi aku ini jenis orang yang rebah rempah di tengah malam, buat itu buat ini, tulis itu tulis ini akan mengganggu tuanrumah..dan telefon datang tak menentu..Ikra janji akan hadir pada Baca Puisiku di Reboan. Oh, dia juga diundang sama oleh Mas Yo untuk menggantikan pembacaannya yang takjadi dulu.
“Kau pastikan ya yang pihak Reboan menjemputmu di Alia dan membawa ke Bulungan!” Reboan tuanrumah.” Takpantas kalau mereka membiarkan anda!” Dan dia mengundangku ke apartemennya pada malam akhir untuk makanmalam dan bertemu dengan beberapa sasterawan senior Indonesia.
“Yah, yah aku ingat itu..terima kasih.” Ikranagara bukan sekadar mengundang tetapi telah mengaturkan majlis peluncuran CD Baca Puisiku Syurga Ke Sembilan di PDS HB Jassin. “aku udah dapat persetujuan dengan Pak Endo Seggono Ketua PDS. Dan Maman katanya akan membuat pengantar..”
Kemudian dia berbicara dengan Johannes Sugianto. Yo bertanya itu ini masalah lakonan Ikra di Jepun, pertunjukannya di Riau, hal-hal famili dan lalu masuk ke acara Reboan pada keesokan malamnya. Dan kemudian kami sambung makan lagi dan nyambung tentang puisi di Malaysia dan di Indonesia. Generasi baru dan generasi senior. Peri Majlis Reboan sudah menangkap perhatian luas masyarakat dan mendapat siaran dari dalam dan luar negara.
Seorang jurnalis Kompas sudah memesankan puisi-puisinya untuk dimuat dalam kompas.com. Alangkah senangnya hati pemimpin Reboan yang gesit ini bila mendapat perhatian berlimpahan begitu. Dia tau sebagai penyair dan pemimpin komunitas tentu bukan hanya cinta dan rindu menantinya tetapi juga ada “ancaman” dan “hambatan” juga menantinya. Dia sudah bersedia untuk itu.
Seperti mulanya dia ragu-ragu apabila temananya Budhi Setyawan menyampaikan salam penyair mapan-mistik Diah Hadaning mengusulkan agar Dato Kemala diundang. Nah, bagaimana jadinya maksud penyair Melayu ini maka tiba-tiba mahu hadir dalam Baca puisi Reboan di Bulungan? Sedangkan Reboan tidak dapat menawarkan sepeser juga pun. Bagaimana nih?
http://www.esasterawan.net/esasterawan/1_weblogg.asp?uid=195&bid=11011