natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Apr
5th

TIDAK CUMA BEDA ISTILAH DALAM BAHASA

Files under Coretan | Posted by Yo

Catatan dari Kuala Lumpur

TIDAK CUMA BEDA ISTILAH DALAM BAHASA

Setiba di bandara Kuala Lumpur (KL), seperti lazimnya orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang (juga tak beda ketika baru ke suatu kota), mata saya tergoda oleh sebuah istilah di papan warna bertuliskan “Ketibaan”. Meski tahu artinya sebagai “Kedatangan”, saya teringat istilah bahasa Jawa “ketibanan” (tertimpa suatu benda) dan ini membuat saya geli sekaligus mulai merasakan ada beda antara istilah dalam bahasa kedua Negara.

Perbedaan itu makin tampak ketika bus dari bandara mengantar ke KL Center, sebelum berpindah naik taksi ke hotel Mandarin Court di jalan Maharajalela. “Buat apa naik taksi dari bandara, kan kita ingin menyaksikan jalanan ke arah hotel,” kata Hudan Hidayat, sang cerpenis ketika baru tiba di bandara KL. Saya dan Kirana Kejora yang penyair dan penulis naskah film manggut-manggut saja mengamini.

Tiba di hotel sudah ada Dato’ Kemala, tuan rumah yang mengundang kami bertiga plus Abidah El Khalieqy yang baru datang sore langsung dari Yogyakarta, sudah menanti di lobi hotel. Tanpa sempat istirahat, setelah menaruh tas di kamar, langsung diajak Dato’ ke tempat seminar di gedung Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP).

Di lantai dasar, saya sudah terkagum melihat ruang perpustakaan yang tak cuma rapi tapi juga mewah. Aneka poster dengan berbagai ukuran ada di setiap sudut. Sebuah televisi ukuran besar sedang menyajikan video pidato seorang sastrawan atau petinggi yang sayangnya tanpa suara. Hanya beberapa menit saja di sini, karena tuan rumah sudah memberi isyarat untuk naik eskalator menuju ruang pertemuan.

Ada dua ruangan yang akan dijadikan ajang seminar. Pertama dengan meja-meja bundar, yang ternyata untuk acara pembukaan dan penutupan acara. Saat berlangsung seminar, ruangan ini berfungsi sebagai ruang makan. Ada panggung dengan backdrop bertuliskan “Seminar Wajah Kepengarangan Nusantara” yang dibalut warna ngejreng biru merah.

Kedua, ruangan yang dipakai untuk seminar dari hari pertama hingga terakhir. Kursi berwarna krem yang terlipat seperti di bioskop langsung membuat mata betah, sekaligus rasa iri : “Kapan Indonesia mempunyai ruangan seminar untuk acara sastra seperti ini?”.

Di podium terdapat meja untuk pembicara dan moderator. Di Malaysia, pembicara dikenal dengan sebutan “Pembentang” dan “Pengerusi” untuk moderator. MC biasanya menyebut “Kami menjemput yang terhormat Bapak..”, yang tak lain mempersilahkan pembicara naik ke podium.

Beda istilah itu terus menggelitik hingga dalam saat berjalan kaki dari hotel ke gedung DBP yang tak begitu jauh. Seperti saat pulang di hari pertama, saya bersama Kirana dan Rima Melati (penyuka sastra yang sengaja datang dari Jakarta untuk memberi dukungan kepada kami) membaca istilah di papan di sudut jalanan, dekat sebuah pom bensin ke arah hotel. “Ibu Pejabat Jabatan Bomba dan Penyelamat Wilayah Persekutuan”. Esoknya saya baru tahu jika itu menunjukkan arah kantor Pemadam Kebakaran (Bomba).

Kesibukan mengikuti seminar, dengan tampil sebagai Pembentang eh Pembicara dan juga membaca puisi, membuat saya melupakan perbedaan istilah di jalanan maupun yang ada di sekitar lokasi seminar. Menjaga stamina agar bisa tampil baik, karena bagaimanapun saya dan teman-teman membawa nama baik Indonesia, merupakan hal yang sangat penting.

Hingga tiba hari terakhir seminar, Sastrawan Negara, A. Samad Said kembali tampil untuk berbicara di tengah pidato para petinggi itu. Saat pembukaan seminar, Sastrawan Negara yang berambut gondrong keperakan, dengan kumis dan jenggot memanjang ini hanya berbicara tentang perkembangan sastra, sambil tak lupa menyebut nama-nama sastrawan seperti Rendra. Lelaki kelahiran 9 April 1935 di Belimbing Dalam, Durian Tunggal, Melaka ini merupakan sastrawan terkemuka di Malaysia.

Ketika menyinggung masalah sastra dan sastrawan, Samad Said menyebut tentang bahasa di Indonesia yang sudah tidak menjadi masalah lagi di Negara ini. “Bahasa Indonesia sudah dipakai secara luas, dipergunakan di berbagai bidang. Tapi di Malaysia, setelah 50 tahun merdeka soal bahasa belum terselesaikan, malah pemerintah sendiri tidak begitu yakin akan Bahasa Melayu. Tokoh-tokoh tertentu percaya bahwa orang Melayu hanya bisa maju dengan memakai Bahasa Inggris”.

Mendengar ini saya jadi tersengat, berkurang rasa kantuk dan lelah yang menerpa. Di podium, Samad yang paling banyak diminta untuk foto bersama oleh para peserta seminar, tampak begitu gagah saat berbicara bahasa Melayu ini.

“Banyak elite penguasa yang sehari-hari hidup dengan bahasa Inggris tidak merasakan apa yang terjadi di kehidupan nelayan, buruh dan petani. Ini dilakukan dengan cara yang menyakitkan. Dana jutaan ringgit dikucurkan untuk sekolah-sekolah India, Dewan Bahasa dan Pustaka tak punya kuasa. Bahasa Melayu kuncup, bahasa Inggris kembang”, ujar dengan nada keras.

Ucapan Sastrawan Negara peraih SEA Award 1979 itu terus terngiang dan memberikan perenungan yang tak juga hilang. Di tengah ratusan gedung mewah, termasuk Twin Towers dan Putrajaya yang begitu terkenal seantero dunia, jalanan di KL yang bersih tak seperti Jakarta, monorail yang elok dan tingkat kedisiplinan masyarakat yang patut dicontoh, ternyata Malaysia masih gagap dalam menentukan bahasanya sendiri.

Samad Said tidaklah sendirian sebagai pejuang bahasa Melayu. Prof.Madya Dr Nor Hisham Osman dari Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaysia juga berpendapat tak beda. “Kelompok aristokrat yang memerintah justeru melihat budaya dan semangat Melayu hanya pada pemakaian batik dan melihat orang menari”, ujarnya di salah satu harian terkemuka Malaysia baru-baru ini.

Ternyata ketakjuban saya akan beda istilah, juga dialek, selama empat hari di KL lebih dari sekedar itu saja. Di sana ada saudara dan tetangga yang masih berkutat dengan akarnya sendiri yaitu bahasa Melayu, yang tidak semata isyu budaya tapi juga berimplikasi sosial dan politik yang tidak ringan.

Setiba di bandara Soekarno-Hatta, saya terus teringat hal itu sambil mencari kata “Ketibaan” yang memang tak ada di sana. Sapa para calo menjajakan voucher pulsa dan tawaran sopir taksi membuat saya tersenyum. Bahasa Indonesia mereka itu juga bahasa saya. Sesuatu yang patut dibanggakan karena bangsa ini telah menjadikannya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan.

Semoga senyum ini juga ada pada diri para pejabat, politisi, artis, sastrawan, penyanyi, pelaku industri iklan, seniman, anak-anak muda, kapitalis film dan sinetron serta penulis naskah. (yo)

Post a Comment