natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Sep
11th

DALAM SASTRA DAN MUSIK DI SASTRA REBOAN UNTUK RENDRA

Files under Berita | Posted by Yo

Sastra dan musik mampu memberikan aura perubahan, tak hanya pada suasana hati tapi juga warna pada neo nasionalisme anak muda. Seperti dikatakan oleh penyanyi ternama, Glenn Fredly “Hari-hari ini saya percya sekali bahwa gerakan nasionalisme baru akan mempengaruhi banyak anak muda Indonesia”.

Dalam acara Sastra Reboan #18 yang berlangsung kemarin malam (09/09) di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan, Glenn Fredly yang tampil solo gitar dengan celana jeans dan sepatu kets tidak hanya tampil membawakan lagu tapi juga berbicara tentang potensi masyarakat Indonesia bagian timur yang sudah saatnya dihargai. Ia lalu melantunkan lagu ciptaaanya “Terang” yang dipersembahkan untuk anak-anak muda di Sastra Reboan.

Pagelaran dengan tema “Pembangunan Dalam Mata Puisi Rendra”merupakan kerjasama antara Paguyuban Sastra Rabu (PaSar MaLam) yang secara rutin menggelar Sastra Reboan di Wapres dengan Cicak (Cinta Indonesia, Cinta KPK, sebuah organisasi yang gencar melontarkan gerakan anti korupsi. Dua penampil tidak bisa hadir yaitu Clara Sinta, artis film yang juga puteri Rendra sedang sakit dan Happy Salma, artis dan cerpenis sedang menemani ibunya yang sedang sakit.

Penampilan Glenn Fredly di akhir acara itu mendapat applause sangat meriah, hingga hampir serempak terdengar koor ‘lagi…lagi’ untuk peraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia 2001, kategori lagu terbaik dan penyanyi pria terbaik kategori musik R&B ini.

Sebelum memenuhi permintaan pengunjung yang lebih dari 100 orang itu, Glenn bertutur tentang sosok WS Rendra yang mempengaruhi hidupnya secara tidak langsung. Ketika bertemu di Surabaya, Glenn tak berani menyapa Rendra saat itu. “Rendra adalah idola saya, seperti halnya Kantata Takwa yang saya saksikan di Senayan ketika masih kelas 1 SMP. Ketika itu saya tidak tahu lagu-lagu yang ditampilkan, tapi saya merasakan aura perubahan. Mereka menginspirasi saya”, ujarnya sebelum membawakan lagu “Kesaksian” karya Rendra.

Improvisasi yang menawan, dengan vocal dan penghayatan dalam dari Glenn Fredly membius pengunjung setia Sastra Reboan. Saat refrain lagu dari album Kantata Takwa ini, para pengunjung yang sebagian besar anak muda turut menyanyikan dengan kebersamaan yang membuat merinding. “Banyak orang hilang nafkahnya/Aku bernyanyi menjadi saksi/Banyak orang dirampas haknya/Aku bernyanyi menjadi saksi”. Di tengah koor ini, Glenn sempat terhenti menahan rasa harunya yang dalam.

Sastra Reboan diawali dengan penampilan violis cilik Fachry bersama adiknya, Nisa yang membawakan soundtract film “Laskar Pelangi”, acara lalu bergulir dengan sambutan singkat dari Ketua PaSar MaLam, Johannes Sugianto yang juga membawakan satu bait lagu “Sajak Sebatang Lisong”, inilah sajakku/ pamplet masa darurat/apakah artinya kesenian/ bila terpisah dari derita lingkungan/ apakah artinya berpikir/ bila terpisah dari masalah kehidupan.

Puisi pertama Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang dikenal dengan nama W.S. Rendra dibacakan oleh Ilenk Rembulan secara bergantian bersama MH Poetra dari Medan dan diiringi permainan gitar oleh Lintang TImur dari Padang.

Selanjutnya, sajak Rendra berjudul “Bulan Mei 1998“ dibacakan oleh Todung Mulya Lubis, pengacara yang juga penulis puisi. Selesai pembacaan yang dibawakan dengan tenang dan berperasaan, penonton meminta Kepala Dewan Etis Badan Pengawas Korupsi Indonesia (ICW, 1998 – sekarang) membaca puisi lagi, sayang permintaan itu tak dapat dipenuhinya.

Berikutnya Denny Sakrie, pengamat musik yang berbicara tentang musik dalam puisi Rendra dipandu oleh MC Budhi Setyawan. Ia menyayangkan belum adanya apresiasi khusus dari pemerintah untuk karya-karya Rendra. Media massa juga beberapa hari saja memberi porsi atas diri Rendra setelah meninggal dunia, berbeda dengan Michael Jackson yang pemberitaannya menelan waktu sebulan lamanya.

Pengunjung makin memadati area Wapres, berbaur dengan para reporter dan fotografer dari berbagai media. Suasana makin menghangat dengan penampilan grup indie, Tika and The Dissident. Puisi Rendra “Blues Untuk Bonnie” dibawakan dengan apiknya, dalam irama blues yang kental. Musik dan musikalisasi puisi dengan menonjolkan irama dari melodi gitar yang menaik dan menukik tajam membuat mereka tampil benar-benarr apik. Tika yang bernama lengkap Kartika Jahja bersama rekan-rekannya, Susan (bass), Iga Agiwinanto (gitar), Okky Rahman Oktavian (drum), dan Lucky Annash (pianis) mengakhiri penampilannya dengan lagu “Polpot” yang dibawakan dengan ritmik dan bertempo cepat.

Usai musik berlalu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof.Dr. Jimly Asshiddiqie sebagai perwakilan CICAK memberikan sambutannya. Jimly berkisah bahwa ia . Dalam sambutannya, Pak Jimly mengatakan masih punya utang kepada Rendra. Suatu hari ketemu Rendra di Masyarakat Hukum Adat dipandang dari Hukum Tata Negara. Ia terkesan melihat Rendra yang sangat fasih tentang hukum adat. Dia menawarkan Rendra untuk penghargaan Honoris Causa dari Universitas. Masih dalam pengurusan untuk penghargaan itu, Mas Rendra sudah dapanggil yang kuasa. Itulah utang Pak Jimly kepada Rendra. Jimly lalu membaca sajak Rendra yang ditulis di Universitas Indonesia dengan judul “Sajak Orang Kepanasan”.

Berikutnya pembacaan puisi oleh Kirana Kejora yang diiringi oleh violis Fachry. Puisi “Rajawali” dibawakan dengan latar instrumen “Indonesia Tanah Air Beta” yang menyayat. Puisi ini ditulis oleh Kirana dari nasehat Rendra untuk setia pada pilihan, menjadi penulis yang memberi dan membumi.

Musik berikutnya adalah group band REL yang banyak memusikalisasi sajak-sajak Rendra. Personil REL adalah Isaias Sadewa, putra WS Rendra (Lead Guitar), Indoen (Rhythm Guitar), Glenn (Bass), Derry (Drum) dan Aga Herman (Vokal). Musik yang dibawakan oleh kelompok musik tahun 2009 ini bernuansa simbiosispoetic rhythm rock. Empat puisi Rendra ditampilkan dengan irama rock dan satu lagu karya sendiri dibawakan grup ini.

Penampilan berikutnya dari Jodhi Yudhono, pemusik yang juga seorang jurnalis. Ia membawakan lagu yang diaransemen sendiri untuk sajak Rendra “Pamflet Cinta”. Balutan irama country dari gitar dan biola yang dimainkan oleh Arul Lamandau, puisi ini tersaji dengan sangat manis dan apik dan mengundang kekaguman Glenn Fredly.

Penyair Slamet Widodo yang ketika mahasiswa terinspirasi untuk menulis puisi dan mempunyai buku waktu Rendra datang ke kampusnya Institut Teknologi Bandung membacakan puisi karyanya sendiri berjudul “In Memoriam Rendra” yang ditutup dengan baris “… Rendra telah mati. Tapi karya besarnya tak pernah pergi.”

Berikutnya dua penulis muda dari Surabaya, Gita Pratama dan Anisa mebawakan musikalisasi puisi karya Rendra “Rumput Alang-Alang”. Dilanjutkan dengan puisi kedua yang mereka lagukan adalah “Lepas Senja Taman Daun” yang diciptakan oleh mereka sendiri.

Kadri Jimmo The Princes of Rhythm kemudian tampil di penghujung acara sebelum Glenn Fredluy dengan membacakan “Surat Cinta” karya WS Rendra. Kelompok musik yang terdiri dari Kadri (vocal), Jimmo (keyboard), Rifky (gitar), Iyoen (Drum) dan Ken (bass) dan lagu juga membawakan karya mereka sendiri. Meski penonton meminta tambahan lagu, namun karena keterbatasan waktu tak memungkinkan untuk memenuhi permintaan lagu berikutnya. (des/gie)

Post a Comment