huruf-huruf berloncatan sore ini
di mataku yang terhujam rindu
setelah berhari bertarung
dengan beku dan letih sendiri
tadi hanya sempat kukirim salam
sembari mencoba simpan diam
yang tiba-tiba menghampiri
seperti lirik lagu jawa kesukaanmu
‘aku suka lagu ini’, katamu
saat ‘kembang kacang’ memecah siang
sedang anakmu hanya menahan gemetar
menghitung duka yang tertebar
sejanak kita teringat cerita lama
tentang tangisan anak kecil
yang merengek mainan dari kayu
lalu tertawa seolah [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Dari Sastra Reboan #20 :
HARAPAN DALAM PUISI DAN SENI
Masih ada harapan, dan ini tak padam. Harapan akan adanya kebersamaan, keadilan dan kedamaian. Ini terlihat dari sambutan pengunjung Sastra Reboan ketika menyaksikan penampilan Komunitas Anak Jalanan Yayasan Himmata, Jodhi Yudhono & Arul Lamada serta Kolaborasi Lingkar Studi Kebudayaan UBK (Universitas Bung Karno) dan Bengkel Seni STIAMI [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
embun itu masih ada di jendela
saat kutuliskan namamu
dengan ucapan yang sama
seperti tahun lalu
tapi kau tak akan membaca
karena siapa aku juga samar
meski telah kudengar lamat
bisikmu bertanya tentang nama
berpuluh musim kulewati
dengan sepi menyapa sunyi
yang tak sempat kutulis jadi puisi
dan di situ terselip dirimu
terus kutulis di situ
sambil tak henti berucap
dalam kata yang senyap
sembari kubiarkan kering airmata
pagi, 10 02 [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
dulu aku tak ingin bertanya
tentang apa yang mestinya jadi milikku
tentang apa yang seharusnya kumiliki
ketika aku berdoa
hanya airmata yang berbicara
ketika aku bersujud
hanya keperihan yang terwujud
bukankah yang telah kudapat harusnya lekat?
bukankah yang tersurat mestinya kudekap erat?
kini aku ingin bertanya
berapa banyak tamparan bagi dosa tertebar
berapa dalam luka untuk sesal terkapar
pertanyaanku membentur batu
airmataku makin membeku
malam, 14 11 09
baca selengkapnya |
1 Comment »
: kef
di tepi danau penyair melempar pancing
mata kailnya telah diberi abjad
berharap ada kata yang tersangkut
akan ditatanya agar urut
lama tak dibuatnya sajak
usai hari demi hari gemertak
air beriak sejenak
senyap tetap tergeletak
wajahnya tetap melukis sepi
seperti sapa pada dedaunan itu
berbatang rokok sia-sia
rindu tinggal beku
lelaki itu lepaskan tawa
sembari benahi kusutnya cinta
hari makin lirih
bertambah satu senja lagi
“mengail kata ternyata tak mudah
dalam [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
Dari Sastra Reboan #19
Seorang politisi di Australia dari Partai Buruh mendapatkan gelar Ph.D (Doctor of Philosophy) dengan tesis tentang sastrawan Indonesia bernama Gerson Poyk. Gelar serupa juga diraih ilmuwan dari Jerman Barat. Tak pelak, mereka menjadi tokoh yang terpandang dan dihargai di masing-masing negaranya.
Bagaimana dengan sosok yang mereka teliti? Gerson Poyk tetap hidup sederhana. Dia [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
sudah kurajut waktu buatmu
datang bersimpuh dan berteduh
seperti dulu saat kanak-kanak
seperti dulu saat menyapa esok
yang ternyata penuh peluh dan keluh
ada embun yang kurebut dari pagi
untuk kuusapkan di kakimu yang tua
sambil kudengarkan lagi cerita
tentang ceriamu yang telah pergi
sudah kutata juga banyak kata
tentang puisi yang selalu menemani
saat sepi menyapa dan tawa menerpa
tapi aku dibelit ragu
kau akan menerima serpihan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
: pr bs
tak lagi akan dinikmati
saat tawa menjelma sepi
sedang sapa tinggal sesekali saja
usai waktu memberi batas tegas
di tengah riuh pernah terlahir puisi
tentang hari yang menghitung perih
tentang tawa yang sebenarnya isak
hingga penyair berhenti menjala kata
tentang apa yang sebenarnya terjadi
puisi juga enggan mengerti
karena batasan hati tak bertepi
dengan sedih tersimpan diam
dengan tawa tergenggam malam
tak lagi akan disesapi
gurau yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
seharusnya aku di tepianmu
sekedar menemani hari yang lelah
kau menghitung tetesan hujan
aku menatap sisa sore di mata itu
mungkin tak kau rasakan
ada kesedihan yang diam
saat kau mengunyah sakit
aku tak bisa sentuh ujung rambutmu
perih ini terasa menggigit
seharusnya aku segera tiba
membawa kelopak mawar
yang baru saja mekar
embun terus menyirami
sembari kita hitung perginya hari
nantinya akan tiba
aku ada di tepian itu
bersamamu menghitung [...]
baca selengkapnya |
No Comments »