Dari Sastra Reboan #19
Seorang politisi di Australia dari Partai Buruh mendapatkan gelar Ph.D (Doctor of Philosophy) dengan tesis tentang sastrawan Indonesia bernama Gerson Poyk. Gelar serupa juga diraih ilmuwan dari Jerman Barat. Tak pelak, mereka menjadi tokoh yang terpandang dan dihargai di masing-masing negaranya.
Bagaimana dengan sosok yang mereka teliti? Gerson Poyk tetap hidup sederhana. Dia bukan sastrawan yang kaya. Ketika diundang berbicara dalam suatu acara, ia tak menerima honor jutaan rupiah. “Tetap kere. Inilah nasib sastrawan di sebuah negara besar. Sengsara betul jadi sastrawan Indonesia”, ujarnya tanpa rasa sesal ketika berbicara di Sastra Reboan #19 di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan kemarin (28/10).
Acara yang bergulir pukul 19.30 seperti biasanya mendapat perhatian besar dari para pelaku dan penikmat sastra. Dari banyaknya yang hadir tampak Sutardji Calzoum Bachri, Hamsad Rangkuti, Slamet Widodo, Leon Agusta dan Fanny Jonathans Poyk.
Selain Gerson Poyk, penampil lain dalam acara yang dipandu MC Budhi Setyawan dan Nurul Wardah serta diawali dengan Band Filo adalah cerpenis dan aktivis wanita, Mariana Amiruddin, Jodhi Yudono yang penulis buku “Mbah Surip We Love You Full”, beberapa pembaca puisi dan Teater Koin. Cerpenis Akmal Nasery Basral tampil memainkan gitar bersama Band Filo yang terdiri dari Arya (gitar), Rangga (bass, keyboard), Demmy (vocal, gitar) dan Eriel (dru .
Dengan rokok kretek yang dibiarkannya menyala,Gerson Poyk yang pernah menerima Hadiah Sastra ASEAN pada tahun 1989.juga berbicara tentang tanah kelahirannya, Rote di Nusa Tenggara Timur (NTT), tentang nasib sastrawan, tentang Bahasa Indonesia dan sekilas perjalanan hidupnya. Cerpenis yang dilahirkan tahun 1931 ini masih tampak gagah.
“Karya-karya saya sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jerman, jepang, Belanda dan Turki. Orang luar negeri lebih menghargai karya kita. Tak gendong kemana-mana sastra saya”, katanya dengan datar menjawab pertanyaan Sahlul Fuad, salah satu penggiat Sastra Reboan yang malam itu mewawancarainya di panggung.
Meski begitu, katanya, sastrawan tetap tak boleh menyerah, tetap harus berkarya. Sastrawan, terutama mereka yang berdiam di kota-kota besar, tak boleh hanya tenggelam dengan rutinitas kesehariannya tapi juga harus melihat dan berpihak pada orang miskin.
Senada dengan nasib sastrawan Indonesia, Jodhi Yudono saat berbicara tentang bukunya juga bertutur tentang sosok Mbah Surip yang akrab dengannya. “Keluarga mbah Surip tidak menerima warisan yang besar seperti dalam media massa. Lewat buku ini pelajaran yang patut dicatat bahwa berkarya itu tak mengenal usia. Mbah Surip sudah membuktikan totalitasnya dalam berkarya, tambah Jodhi yang sempat membaca sebagian buku itu yang separuh royaltinya untuk keluarga seniman fenomenal tersebut.
Tentang Pahlawan
Dalam Sastra Reboan yang kali ini mengambil tema “Saudaraku Berk/gabung”, dan tepat bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, para penampil juga memberi sentuhan lewat karyanya. Seperti Mariana Amiruddin yang membacakan bagian dari novel berjudul “Penembak Jarak Jauh” yang bertutur tentang Tan Malaka. “Banyak pahlawan terlupakan, kita hanya diajari tentang nama Soekarno dan Hatta, tapi tidak untuk pahlawan seperti Tan Malaka”, ujar pimpinan Jurnal Perempuan Indonesia itu.
Pembacaan puisi yang ditampilkan oleh Yayan Triansyah bersama Willy serta Trio Ponco, Hari dan Sandi dari Yogyakarta dengan iringan gitarnya juga mampu menarik perhatian pengunjung. Begitu juga saat penyair Pringadi Abdi Surya dan novelis Ian Sacin dari Bangka Belitung membacakan puisinya.
Di akhir acara, Teater Koin (Kita Orang Indonesia) dari Jakarta tampil memukau dengan aksi teaterikal dan pembacaan puisi karya Nana S. dari bukunya “NitaSara”. (gie)