dulu aku tak ingin bertanya
tentang apa yang mestinya jadi milikku
tentang apa yang seharusnya kumiliki
ketika aku berdoa
hanya airmata yang berbicara
ketika aku bersujud
hanya keperihan yang terwujud
bukankah yang telah kudapat harusnya lekat?
bukankah yang tersurat mestinya kudekap erat?
kini aku ingin bertanya
berapa banyak tamparan bagi dosa tertebar
berapa dalam luka untuk sesal terkapar
pertanyaanku membentur batu
airmataku makin membeku
malam, 14 11 09
By Anita Rachmad on Nov 20, 2009 | Reply
puisi yang mencucurkan air mata
sungguh. sebuah usaha pertobatan yang tak akan ada ujungnya.