natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
May
5th

CERPEN BISA MENJADI SARANA PENDIDIKAN ASURANSI YANG EFEKTIF

Files under Liputan, Sastra - Budaya | Posted by Yo

Sastra Reboan #24 31 Maret 2010 :
CERPEN BISA MENJADI SARANA PENDIDIKAN ASURANSI YANG EFEKTIF

Apakah sastra kita saat ini masih diyakini sanggup menahan ingatan pembacanya, lantaran ia bergerak dalam rentang imajinasi antara hati dan pikiran manusia? Bahkan sanggup memberi cermin kepada kita tentang realitas kehidupan dengan cara-cara yang lebih menyenangkan, lebih lengkap dan lebih dinamis. Bagaimana dengan upaya mempertemukan sastra dengan asuransi? Dua dunia yang dianggap dua garis lurus yang tidak mungkin memiliki titik singgung atau titik potong sama sekali.

Hal ini dialami seorang Ana Mustamin, Corporate Head Communication AJB Bumiputera 1912 ketika melontarkan gagasan tentang Lomba Menulis Cerpen dalam rangka ulang tahun perusahaan asuransi ke 97 tahun lalu. Gagasan itu tetap menggelinding meski di internal terdapat keraguan, dan menggandeng Paguyuban Sastra Rabu Malam sebagai penyelenggara Sastra Reboan lomba itu diadakan berbarengan dengan Lomba Esai. Hasil dari lomba cerpen baru-baru ini telah dibukukan dengan judul “Kain Batik Ibu” yang memuat karya 17 pemenang dan penulis lainnya yang terpilih.

Dalam diskusi di Sastra Reboan baru-baru ini di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan yang juga menampilkan Ilenk Rembulan sebagai pembahas kumcer itu, Ana mengakui bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk berasuransi masih sangat rendah. Berbagai cara dan medium komunikasi yang telah dilakukan untuk membangun kesadaran berasuransi belum memberikan hasil yang signifikan. “Melalu cerpen yang jumlahnya lebih dari 500 karya dari lomba itu menunjukan besarnya animo masyarakat terhadap masyarakat masih tinggi. Cerpen ternyata bisa menjadi sarana pendidikan berasuransi yang efektif terhadap masyarakat,” ujarnya.
Sastra Reboan #24 yang mengambil tema “Menemu Diri Sendiri” juga menampilkan bincang-bincang tentang penerbitan Antologi Puisi Gempa 30 September 2009 di Padang, yang merupakan karya para anggota milis Apresiasi Sastra (Apsas). Ketua Panitia antologi, Budhi Setyawan dan salah satu tim juri, Dedy Tri Riyadi tampil dalam obrolan yang dipandu penggiat Sastra Reboan, Setyo Bardono.

Menurut Dedy Tri Riyadi, masih ada beberapa karya yang masih mentah dalam antologi ini. Namun sebagai sebuah karya kepedulian apa yang digagas dan ditindaklanjuti oleh moderator Apsas dalam wujud buku harus diapresiasi. “Jika puisi tak mampu berjarak dengan peristiwa bencana, tak mampu lepas dari faktual peristiwa, maka puisi akan ia akan menjelma menjadi laporan berita”, kata Dedy yang juga penyair dan novelis.

Sedangkan Budhi Setyawan mengemukakan “Puisi tidak sanggup ikut serta dalam gerak cepat terjun ke lokasi bencana untuk membantu menyingkirkan reruntuhan bangunan dan mencari korban, juga menghilangkan anyir darah dan aroma kepiluah. Namun tak ada salahnya sebagai penulis atau penyair menorehkan ketukan getaran gempa yang menghujam nuraninya ke dalam karya puisi”, ujarnya tentang buku setebal 200 halaman yang diterbitkan oleh Sokobuku bekerjasama dengan penerbit Isac Book. Penyair Pringadi yang puisinya masuk dalam antologi ini tampil membawakan karyanya.

Acara yang dibuka hampir jam 20.00 karena beberapa penampil belum datang akibat macet dan hujan di seantero Jakarta itu diawali dengan grup Kapak Ibrahim dari Bandung dengan musikalisasi puisi karya Matdon, Soni Farid Maulana dan Acep Zamzam Noor dan Afrizal Mana. Pengunjung mulai berdatangan memenuhi sudut-sudut Wapres.
Usai bincang Kumcer “Kain Batik Ibu”, Teater Koin tampil memikat membawakan puisi “Kelakar” dan “Pemabuk” karya Nana Sastrawan. Disusul dengan penampilan penyair Hanna Fransisca yang karya-karya sudah tersebar di berbagai media massa seperti Kompas dan Koran Tempo. “Saya sangat grogi tampil di panggung ini. Ini pertama kalinya saya di Wapres dan membaca puisi di Jakarta”, ujar Hanna yang memukau saat membacakan karyanya “Surat Kepada Adik”.

Selanjutnya Matdon, penyair yang juga wartawan di Bandung, tampil berbicara singkat tentang Majelis Sastra Bandung yang bergiat setiap bulannya membahas karya-karya para penyair dan sudah menerbitkan buku “Ziarah Kata”. Ia juga membacakan beberapa puisi, yang salah satunya mampu menggelitik pengunjung tentang seorang murid, ayah dan ibu gurunya. Dua penyair lainnya yang tampil adalah Arie Sakir dan Freddy Wansah.

Setelah musik rock pop dibawakan Blend Band dan diskusi Antologi G 30 S, penyanyi dan gitaris Branjangan memberi warna tersendiri dengan musikalisasi karya penyair Slamet Widodo. Ia membawakan puisi ini dengan irama blues.

Sastra Reboan yang akan berusia 2 tahun pada April ini ditutup dengan pembacaan puisi oleh Imam Budi Susu, Tany Endah Susanti, Restu A.Putera dan Anggara Wedasmara. (ines)


One Response to “CERPEN BISA MENJADI SARANA PENDIDIKAN ASURANSI YANG EFEKTIF”

  1. By Wiwied comment ah on May 5, 2010 | Reply

    Hm,,,,, cerpen memang harus dari hati…
    Agar tak semata tanpa nyawa
    http://wiedewriter.blogspot.com/2010/05/lukisan-dan-tiga-hati.html

Post a Comment