Bayangkanlah seorang perempuan, seorang ibu dan pengusaha sukses yang merelakan dirinya menjadi penyair (lorong sunyi yang dilalui sendiri)? Apakah puisi-puisinya akan berbicara tentang anak, mobil mewah atau hirukpikuk pesta kaum berada?
Tapi bayangan itu pasti musnah ketika berbicara tentang seorang Hanna Fransisca. Dalam puisi-puisinya yang telah diperkenalkan lewat blog atau media cetak ia menghadirkan tanah kelahirannya, Singkawang. Ia juga menghadirkan keperihannya tentang banyak hal, termasuk kecintaanya pada bangsa ini, sekaligus meratapi masih kurangnya bangsa ini memberi tempat pada kaum Tionghoa.
Belum banyak penyair yang mengangkat hiruk pikuk dan kesenyapan daerahnya. Padahal aroma kedaerahan itu menjadi santapannya sehari-hari, punya timbunan kekayaan budaya yang sanggup melahirkan ribuan puisi. Kemewahan yang tak dinikmati oleh banyak penyair yang sehari-hari bergelut dengan keangkuhan Jakarta, hingga banyak budaya lokal dari si penyair mencair atau menipis. Meski ini tidak bisa diartikan dia tak cinta lagi pada tanah asalnya.
Hanna Fransisca membuktikan hal itu. Dia tak kehilangan kecintaanya pada Singkawang, kota kelahirannya yang sering didatanginya meski Jakarta menjadi tempat tinggalnya. Ia juga tetap bercerita tentang luka, keperihan seorang wanita sembari memaparkan kecintaanya pada sang adik seperi puisinya “Kepada Adik : Susan”.
Ibu dan pengusaha itu kini makin larut menenggelamkan dirinya sebagai penyair, dengan akan meluncurkan kumpulan puisinya “Konde Penyair Han” di Gothe Institute, Jl. Sam Ratulangi, Jakarta Pusat, Jumat 7 Mei 2010 malam.
Dua penyair besar akan berbicara tentang Hanna dan karya-karyanya, Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo. Panggung di situ juga akan diisi oleh pembacaan puisi tak hanya oleh Hanna sendiri tapi juga ada Sitok Srengenge, Imam Soleh dan penampilan Komunitas Perempuan Tanpa Bulu, Musik China dan Tanjidor.
Meski undangan dibikin dan disebar, tapi acara ini terbuka bagi semua pecinta sastra, kaum awam yang ingin mengenal sastra dan juga kawan-kawan sang penyair yang mungkin ingin tahu seperti seorang Hanna.
Sebuah puisi dari kumpulan buku itu berjudul “Air Mata Tanah Air : Abdurrahman Wahid”, yang membuat saya tertegun membacanya, ingin saya kutip satu baitnya di sini.
Bayangkanlah sebuah kota yang dibakar, bahkan burung
bisa terbang sedangkan aku pengap terkunci di dalamnya. Bayangkanlah
sebuah kota dijarah paksa, bahkan ikan-ikan bebas berumah di kolam air
sedangkan aku terusir dari rumahku sendiri. Bayangkanlah sebuah kota
dipenuhi mata hitam, bahkan kuda-kuda bebas memadu birahi di padang sabana
sedangkan aku terkunci di kamar dan diperkosa. Bayangkanlah jika seluruh
harta milik bisa tiba-tiba dirampas,
ke manakah lagi aku mencari tanah air?
Selamat datang di dunia sunyi, Hanna.
mlm, 03 05 10