Sajak Dedy Tri Riyadi
: Yo
Di hadapanmu, aku melukar
tubuh. Dan sebelum kata
mengaduh, aliran peluhku
tak akan pernah berhenti.
Sebab kau, cinta sejati
yang selalu ingin aku
gauli hingga makna terlahir
nanti; aku adalah kau sendiri
2007
Sajak Dedy Tri Riyadi
: Yo
Di hadapanmu, aku melukar
tubuh. Dan sebelum kata
mengaduh, aliran peluhku
tak akan pernah berhenti.
Sebab kau, cinta sejati
yang selalu ingin aku
gauli hingga makna terlahir
nanti; aku adalah kau sendiri
2007
Sajak Gita Pratama
: om yo
Suaramu mengingatkanku pada puisi
Surat surat itu berserak
Menghantar lukaluka
Berapa yang kau tulis
Mengapa tak segera sampai
Surat itu tergeletak kaku
Pena yang menghujamnya sudah kelelahan
Tertidur pulas di kolong mejamu
Macul, 30407
Sajak Dino F.Umahuk
* Om Yo
Asap di teras itu
Bukan bapak dan kopi
Bukan juga bapak dan rokok
Dinginnya perjalanan umur mulai mengepul
Sebagai kawan ingin berbagi
Biar jalan tak lagi sepi
Aku paham benar tentang gelisah
Dari pemandangan mana saja yang mencumbu awan
Bahkan gelisah di ujung daster para istri
Kita sudah lama kenyang dengan hidup
Asap itu wajah kita dari seribu tahun pelarian
Wajah ibu, […]
Sajak Misbach
: Yo Sugianto
kau bertanya padaku tentang selengkung alis mata yang telah menelikung hatiku dalam kembara. namun aku malah terpesona oleh keindahan kata-kata yang menelikung warna bianglala jadi senja di bawah lengkung alis sepasang mata tempat kau menambatkan cinta.
maka, di sebuah beranda, aku tak lagi menghitung panjang bayang karena aroma mawar telah menggenang bersama […]
Sajak Hasan Aspahani
: Mas Gie
PAGI dan aku masih enggan bersapaan
Meski hanya sekedar ucap salah :
Selamat pagi, hati yang kalah.
Atau semacam tabik tak terarah :
Selamat pagi, mata yang lelah.
Darah siapa menetes di meja?
Sepuntung rokok mendampinginya
Sia-sia.
Kah?
Sumber : sejuta-puisi.com 05 04 2006
Sajak Sony deBono
Lebak bulus
malam selalu riuh
puisi yang mengalir
dari bibir berasapmu
*Bn
Sumber : milis apresiasi-sastra
Sajak Jeng Anin
: buat kang Yo juga (ditulis menjelang hari H-nya kang Yo)
makin dekat
makin nadi berdenyut
makin dingin keringat menyentuh kulit.
waktu:
hari, jam, menit, detik
makin menipis
jelang waktu saat puisimu kan berpendar
lewat bibir dan nafas mereka
ada apa di balik lengkung alis matamu?
binar kata?
duka aksara?
akh…siapa tahu rahasia hati di balik puisi?
biar saja puisimu mengembara
bersama pikiran dan imajinasi mereka
(buat kang […]
Sajak Bintang Kurnia
kepakan sayap patah dari lelaki yang sakit parah
dia kehilangan buah hatinya,
pincang kini berjalan melewati waktu
mencoba terus menguntai kata untuk menghibur jiwa
namun gelap tak tinggalkan hatinya.
CIN 27NOV’06
Sajak Bintang Kurnia
Tatapmu tajam menukik
mengiringi tangisan sang bayu
jiwamu hancur berkeping
terserak bagai buliran pasir
bergolak melawan waktu
ingin kurobek napasmu
ketika jemari ini dapat menggenggam bara
merasakan kepedihan masa-masamu yang lalu
sadarlah pak,anakmu telah tiada
cukupkan waktumu membelainya dengan doa
CIN 27NOV’06
Saya pikir ketika memberikan sambutan sebagai pengarang pada launching ‘Di Lengkung Alis Matamu’, 25 November 2006 lalu, itu adalah bagian yang paling sulit dilakukan. Pertama, kok seperti pejabat berikan sambutan. Kedua, saya orang yang tidak suka formalitas kaku dan basa- basi. Ketiga, badan rasanya remuk (stress ditambah kurang tidur, jam 04.30 menjemput TS Pinang, Cak […]