Wanda Hamidah Berjanji Berantas Markus Kamis, 29 April 2010 | 01:05 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta – Wanda Hamidah mengaku merasa senang dapat berjumpa langsung dengan makelar kasus alias markus. Wanda tak menyangka dengan profesi barunya sebagai politisi ternyata mampu “menguasai” sosok markus yang kini kerap menghiasi layar televisi. Sejak kasus penggelapan dana wajib pajak Gayus [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
dalam tikungan gelisah hujan menjadi kata paling sepi seperti kita yang belajar mengeja tentang perih berbalut tawa aku mencari matamu di balik rintik yang terus menyerbu tapi sia-sia saat lelah terus menghujam dan menari bersama gelak malam malam, 27 12 09
baca selengkapnya |
1 Comment »
seperti puisi yang kupeluk aku ingin mendekapmu erat seperti dedaunan pada ranting di situ tumpahkan genangan sisa hujan yang belum sempat terguyur usai sepi dan lelah berpeluk dari kehilangan atas kepergian seperti reguk embun pada kembang aku ingin membisikkan tembang agar letihmu mengambang sebelum kering luka itu pagi, 31 10 09
baca selengkapnya |
No Comments »
MUDA 3RD CREATIVITY : MENGGALANG ANAK MUDA YANG KREATIF DAN BANGGA INDONESIA Menyambut ulangtahunnya yang ketiga, Kompas Muda bekerjasama dengan Kentucky Fried Chicken (KFC), Udayana Science Club (USC), Press and Cyber Community (PSYCO), dan Mudaers Bali, akan menggelar Muda 3rd Creativity pada 12 Desember 2009 pukul 13.00-19.00 mendatang. Kegiatan bertajuk “Bangga Indonesia” ini terdiri dari [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
huruf-huruf berloncatan sore ini di mataku yang terhujam rindu setelah berhari bertarung dengan beku dan letih sendiri tadi hanya sempat kukirim salam sembari mencoba simpan diam yang tiba-tiba menghampiri seperti lirik lagu jawa kesukaanmu ‘aku suka lagu ini’, katamu saat ‘kembang kacang’ memecah siang sedang anakmu hanya menahan gemetar menghitung duka yang tertebar sejanak kita [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
embun itu masih ada di jendela saat kutuliskan namamu dengan ucapan yang sama seperti tahun lalu tapi kau tak akan membaca karena siapa aku juga samar meski telah kudengar lamat bisikmu bertanya tentang nama berpuluh musim kulewati dengan sepi menyapa sunyi yang tak sempat kutulis jadi puisi dan di situ terselip dirimu terus kutulis di [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
dulu aku tak ingin bertanya tentang apa yang mestinya jadi milikku tentang apa yang seharusnya kumiliki ketika aku berdoa hanya airmata yang berbicara ketika aku bersujud hanya keperihan yang terwujud bukankah yang telah kudapat harusnya lekat? bukankah yang tersurat mestinya kudekap erat? kini aku ingin bertanya berapa banyak tamparan bagi dosa tertebar berapa dalam luka [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
: kef di tepi danau penyair melempar pancing mata kailnya telah diberi abjad berharap ada kata yang tersangkut akan ditatanya agar urut lama tak dibuatnya sajak usai hari demi hari gemertak air beriak sejenak senyap tetap tergeletak wajahnya tetap melukis sepi seperti sapa pada dedaunan itu berbatang rokok sia-sia rindu tinggal beku lelaki itu lepaskan [...]
baca selengkapnya |
2 Comments »
sudah kurajut waktu buatmu datang bersimpuh dan berteduh seperti dulu saat kanak-kanak seperti dulu saat menyapa esok yang ternyata penuh peluh dan keluh ada embun yang kurebut dari pagi untuk kuusapkan di kakimu yang tua sambil kudengarkan lagi cerita tentang ceriamu yang telah pergi sudah kutata juga banyak kata tentang puisi yang selalu menemani saat [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
: pr bs tak lagi akan dinikmati saat tawa menjelma sepi sedang sapa tinggal sesekali saja usai waktu memberi batas tegas di tengah riuh pernah terlahir puisi tentang hari yang menghitung perih tentang tawa yang sebenarnya isak hingga penyair berhenti menjala kata tentang apa yang sebenarnya terjadi puisi juga enggan mengerti karena batasan hati tak [...]
baca selengkapnya |
No Comments »