OASE BUDAYA
by : Theresia Purbandini
Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
biar ada sejumput ragu dalam diri
tapi kau sebenarnya tahu
tak lagi ada cinta padaku
untuk bulan dan senja lain
yang ada atau nanti tiba
sepanjang jalan yang kulewati
dengan lampu yang benderang
menyilaukan juga kadang meredup
kau tahu tak lagi meletup
apa yang liar dalam diri ini
memang ada kata yang kuletupkan
dari tengah kelelahan yang lirih
hingga terasa bising
seperti petir beriring hujan
tapi sebenarnya kau mengerti
semua [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh : Sirikit Syah
Sudah lima kali ini Ubud International Writers & Readers Festival diadakan, dan baru kali ini saya berpartisipasi di dalamnya. Sebelumnya, saya hanya membayangkan bagaimana atmosfer festival para penulis internasional ini. Kali ini saya “dipaksa” oleh Dorothea Rosa Herliany, penyair Magelang, untuk hadir di sini, melaksanakan peluncuran buku 17 penyair perempuan Indonesia. Buku [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
di detak yang sudah tiga hari ini membuatku retak
kutemukan bayangmu tak mau juga berjarak
aku selalu terkenang pertemuan kita
yang kau kira sekedar sapa belaka
kemudian kita jalani bersama
meski kadang kau bersedih kenapa begini
kini aku sendirian meski di sekitarku riuh
bayangmu menyelinap dalam diamku
dan membuat kamar ini terasa pengap
kau tahu, aku gemetar oleh kata-katamu
yang cuma satu dua tak seperti [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh
An. Ismanto
Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ada tuduhan dari khalayak bahwa sastra Indonesia mengalami krisis terkait dengan regenerasi. Dengan rasional khalayak berusaha membuktikan, bahwa pada waktu itu memang karya-karya yang baik boleh dikatakan tidak ada.
HB Jassin menjawab tuduhan itu dengan berpijak pada kenyataan, bukan pada utak-atik logika semata, dengan menyatakan bahwa kesusastraan tidak mengalami [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
August 7th, 2008
tulisan Ana Mustamin, diambil dari http://www.ryanamustamin.com/
(Surat untuk Kurnia Effendi)
APA kabar, Mas? Lama kita gak saling menyapa. Meski demikian, kurasa, kita gak pernah sungguh-sungguh menjauh. Buktinya, menjelang 30 Juli lalu, aku tetap ingat bahwa ada sebuah hari yang pernah kita beri tanda - yang rasanya akan tetap kukenang jejaknya sampai kapanpun. Sebuah ‘monumen’ yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Juli 30,2008
Senin malam akhir April lalu, dalam perjalanan ke Taman Ismail Marzuki, saya menerima telepon dari Johannes Sugianto, pemilik antologi puisi (dengan judul sangat romantis) “Di Lengkung Alis Matamu†( Penerbit AKAR Indonesia, November 2006). Saya melaju sendiri dari kantor di jalur cepat Jalan Sudirman, Jakarta, malam itu. Sambil mengendalikan kendaraan, saya mengobrol lama. Topik [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Bagian ke-2 dari tiga tulisan
Ahmadun Yosi Herfanda
Redaktur dan pelayan sastra
Peran dan keberadaan (eksistensi) Abdul Hadi WM dalam sastra Indonesia sangat paradigmatik. Dia tidak hanya muncul sebagai penyair dan sastrawan ternama, tapi juga membawa konsep estetika penting — puitika sufistik — yang cukup berpengaruh pada perkembangan kesastraan Indonesia pada masanya dan masa sesudahnya.
Jika kebudayaan adalah sistem [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh Toto ST Radik
Sepanjang sejarahnya, terdapat beberapa istilah untuk menyebut seni teater, yakni Drama, Tonil, Sandiwara, Komidi, Lakon, dan Teater.
Drama, berasal dari bahasa Yunani “dram†yang berarti gerak atau perbuatan. Dalam bahasa Inggrisnya “actionâ€. Moulton dalam Dramatic Artis mengemukakan, drama adalah life presented in action atau suatu segi kehidupan yang disajikan dengan gerak. Dengan demikian, [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan
Ahmadun Yosi Herfanda
Red Sastra Republika
Sebenarnya, materi cerpen-cerpen Helvy umumnya adalah materi cerpen realistik, dengan latar (setting) peristiwa yang kerap benar-benar terjadi. Dan, banyak di antaranya adalah pristiwa kekerasan bersenjata yang mengakibatkan tragedi kemanusiaan yang pahit dan mencekam. Di tengah tragedi itu Helvy menghadirkan sosok perempuan yang menjadi korban sekaligus melakukan perlawanan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »