natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Nov
26th

Selasa Untukmu

tertoreh sebagai Liputan, Naskah | 1 Comment

embun itu masih ada di jendela
saat kutuliskan namamu
dengan ucapan yang sama
seperti tahun lalu
tapi kau tak akan membaca
karena siapa aku juga samar
meski telah kudengar lamat
bisikmu bertanya tentang nama
berpuluh musim kulewati
dengan sepi menyapa sunyi
yang tak sempat kutulis jadi puisi
dan di situ terselip dirimu
terus kutulis di situ
sambil tak henti berucap
dalam kata yang senyap
sembari kubiarkan kering airmata
pagi, 10 02 [...]

Feb
10th

Cyber

tertoreh sebagai JejakMedia, Naskah, PUISI | 1 Comment

OASE BUDAYA
Cyber
by : Arie MP Tamba
Sastra cyber (internet) kini menjadi satu kategori pelabelan untuk produk sastra Indonesia setelah sastra majalah, sastra buku, dan sastra koran. Dari penamaannya yang diperluas berdasarkan media ungkapnya, segera jelas bahwa sastra cyber dikhususkan pada karya-karya sastra yang dipublikasikan di (atau disosialisaskan melalui) internet.
Meski, penamaan itu sendiri tidak serta-merta dapat diterima [...]

Dec
4th

Menafsir Puisi-puisi DN Aidit

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | Leave a Comment

Selasa, 28 Oktober 2008 | 22:09 WIB
oleh Asep Sambodja
“Tukang pidato adalah seniman,” kata Njoto alias Iramani, menerjemahkan pernyataan Multatuli, “Ook de redenner is een kunstenaar.” Paling tidak, DN Aidit yang dikenal dunia internasional sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) itu juga menulis puisi.
Ada sembilan puisi DN Aidit yang terdapat dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi [...]

Oct
28th

Multitafsir Pahlawan dalam Puisi

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | Leave a Comment

OASE BUDAYA
by : Theresia Purbandini
Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah [...]

Oct
24th

Sebenarnya Kau Mengerti

tertoreh sebagai Liputan, Naskah, PUISI | 1 Comment

biar ada sejumput ragu dalam diri
tapi kau sebenarnya tahu
tak lagi ada cinta padaku
untuk bulan dan senja lain
yang ada atau nanti tiba
sepanjang jalan yang kulewati
dengan lampu yang benderang
menyilaukan juga kadang meredup
kau tahu tak lagi meletup
apa yang liar dalam diri ini
memang ada kata yang kuletupkan
dari tengah kelelahan yang lirih
hingga terasa bising
seperti petir beriring hujan
tapi sebenarnya kau mengerti
semua [...]

Oct
23rd

Absurditas Sastra Komersial di Festival Ubud

tertoreh sebagai Naskah, Sastra - Budaya | Leave a Comment

Oleh : Sirikit Syah
Sudah lima kali ini Ubud International Writers & Readers Festival diadakan, dan baru kali ini saya berpartisipasi di dalamnya. Sebelumnya, saya hanya membayangkan bagaimana atmosfer festival para penulis internasional ini. Kali ini saya “dipaksa” oleh Dorothea Rosa Herliany, penyair Magelang, untuk hadir di sini, melaksanakan peluncuran buku 17 penyair perempuan Indonesia. Buku [...]

Oct
14th

Berujung Pada Senyap

tertoreh sebagai Liputan, Naskah | Leave a Comment

di detak yang sudah tiga hari ini membuatku retak
kutemukan bayangmu tak mau juga berjarak
aku selalu terkenang pertemuan kita
yang kau kira sekedar sapa belaka
kemudian kita jalani bersama
meski kadang kau bersedih kenapa begini
kini aku sendirian meski di sekitarku riuh
bayangmu menyelinap dalam diamku
dan membuat kamar ini terasa pengap
kau tahu, aku gemetar oleh kata-katamu
yang cuma satu dua tak seperti [...]

Sep
17th

Menimbang Lagi tentang Penyair Tua dan Penyair Muda

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | Leave a Comment

Oleh
An. Ismanto
Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ada tuduhan dari khalayak bahwa sastra Indonesia mengalami krisis terkait dengan regenerasi. Dengan rasional khalayak berusaha membuktikan, bahwa pada waktu itu memang karya-karya yang baik boleh dikatakan tidak ada.
HB Jassin menjawab tuduhan itu dengan berpijak pada kenyataan, bukan pada utak-atik logika semata, dengan menyatakan bahwa kesusastraan tidak mengalami [...]

Aug
7th

Sepanjang Losari

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | Leave a Comment

August 7th, 2008
tulisan Ana Mustamin, diambil dari http://www.ryanamustamin.com/
(Surat untuk Kurnia Effendi)
APA kabar, Mas? Lama kita gak saling menyapa. Meski demikian, kurasa, kita gak pernah sungguh-sungguh menjauh. Buktinya, menjelang 30 Juli lalu, aku tetap ingat bahwa ada sebuah hari yang pernah kita beri tanda – yang rasanya akan tetap kukenang jejaknya sampai kapanpun. Sebuah ‘monumen’ yang [...]

Aug
1st

Reboan Lagi

tertoreh sebagai Naskah, Sastra - Budaya | Leave a Comment

Juli 30,2008
Senin malam akhir April lalu, dalam perjalanan ke Taman Ismail Marzuki, saya menerima telepon dari Johannes Sugianto, pemilik antologi puisi (dengan judul sangat romantis) “Di Lengkung Alis Matamu” ( Penerbit AKAR Indonesia, November 2006). Saya melaju sendiri dari kantor di jalur cepat Jalan Sudirman, Jakarta, malam itu. Sambil mengendalikan kendaraan, saya mengobrol lama. Topik [...]