natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Dec
1st

Asap Pagi

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

: soni farid maulana
“aku sedang mandul dari getar
kubiarkan kata-kata terkapar”
kata penyair sambil hirup asap pagi
setelah malam kering dari mimpi
tumpukan buku
yang belum juga laku
menatap dengan mengerti
saat penyair berperang dengan perih
di ruang tunggu dengan perawat ayu
menemani isteri isteri yang kesakitan
teringat ia akan segala pujian
yangtak bisa ditukar dengan rupiah
“akan kutantang dengan tabah
seperti dulu saat puisi menyapa”
gumamnya sambil menata [...]

Nov
13th

Saat Kaki Waktu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

mungkin semburat gempa
akan membuat ranting hatimu bergetar
dan daun perlahan melata
untuk tahu selalu ada rindu
yang sulit terkata dalam sebuah puisi
di jalanan macet ada mata melata
usai senja melengos dari sapa sore
dengan gelengan kepala tak percaya
akan sungguh yang nyata
atau saat kaki waktu
bertanya seberapa kelu
mengiris detak dalam detik
akan kau anggukkan kepala
lalu berucap akan percaya
sebaiknya tahu lebih dulu
sekedar kata mampu [...]

Nov
11th

Nyanyian Diri

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

memahami mendung menyimak gelisah
ada keruh di mata ada luruh dalam kata
hingga ada tanya apakah ini tergesa
bila menyodorkan segelas rindu padamu
apakah aku yang terbiasa
menenggak keruh saat senyap
inginkan alunan seruling yang mengelus cemara
sedang bagimu cukup satu dua saja
untuk pahatan kata dalam bola-bola gerimis
memahami tamparan malam
dan bulan menitipkan senyuman
tahulah aku akan bahasa di bingkai hati
akan pikat rasa yang [...]

Nov
10th

Mengantar Anak 01

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

dari rumah anakku berbenah
menuju pameran di sudut jakarta
banyak wajah sama di sana
hitam dan putih menanti
giliran masuk ruang megah
tapi di tengah lukisan dan gerak
dengan nama-nama asing
dan anak-anak muda memuja
semua yang bukan indonesia
aku menjadi orang asing
di sini tak ada tombak atau keris
yang tinggal jadi pelajaran sebaris
sedang baju dan samurai
dihapal bagai gerimis berderai
sambil menikmati rokok
buatan anak negeri
kulihat binar [...]

Nov
4th

Seperti Ini Saja

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

kau bertanya saat muram merayap diam
di wajahku saat sore lama perginya
tebakmu, pastilah ada puisi mengganggu
hingga aku ingin segera berganti malam
tidak, dik, penyair ini bukan bertengkar
dengan abjad atau kata
bukan pula karena sedih ditinggalkan teman
yang sedang menyemburkan sisa kawah
penyair tidak akan mati oleh perih
karena itu adalah karibnya berpuisi
dik, aku mencoba menyapa kesendirian
usai merenda pertengkaran diri
saat peperangan tak [...]

Nov
4th

Menjemput

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

kesedihan tumbuh di mataku
meski tak kau lihat dari situ
ada kata merayap dalam senyap
tapi yang kau dengar hanya derap
gelisah yang kubiarkan diam
berhari-hari tanpa sempat kusebut
di matamu rindu itu mengerjap
yang tak pernah terkata dalam ucap
ranting-ranting gemertak
saat terinjak kaki yang resah
siang, 31 10 08

Oct
28th

Multitafsir Pahlawan dalam Puisi

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | Leave a Comment

OASE BUDAYA
by : Theresia Purbandini
Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah [...]

Oct
28th

Bermula dari Kegelisahan…

Acara Sastra Reboan pada awalnya kadang disebut Pasar Malam. Hal ini karena suasana yang tersaji mirip pasar malam, dengan berbagai aksi sastra di panggung Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan. Tapi sebutan itu juga disebabkan Sastra Reboan diselenggarakan oleh para pencinta sastra yang tergabung dalam Paguyuban Sastra Rabu Malam, yang disingkat [...]

Oct
27th

Kusentuh Ingatanku

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

sepi tak beda dengan waktu
berujung pada simpul yang sama
seperti rambatan uban dan usia
ah…aku memang semakin tua
perut yang membuncit
dan punggung makin renta
hingga sering tak bisa menyanggah kata
tapi cinta tak ada hubungannya
dengan waktu dan usia
saat diminta berhenti terus saja melaju
dengan kekosongan dan keriuhan
yang juga tak beda
tiba-tiba kusentuh lagi ingatanku
tentang puisi dan buku
dan aku tersenyum mengingatnya
karena di situ [...]

Oct
27th

Selalu Menemukan Dirimu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

aku selalu menemukan dirimu
tak hanya pada helai-helai rambutmu
yang terserak di lantai atau meja rias
selalu aku teringat padamu
setiap melihat iklan di televisi
atau sinetron dengan wajah cantik
ada tawa yang menjelma tawamu
ada senyum yang menggoda kenanganku
kutulis ini saat aku sendirian
lampu kamar sengaja kumatikan
hanya ada semburat cahaya dari pintu
dan asap rokok membentuk bayang muram
di tengah dinginnya kopi yang tinggal [...]