Cerpen : Johannes Sugianto
“Mas, coba periksa ke dokterâ€
‘Lho buat apa? Aku cuma pilek dan batuk saja, kok. Paling besok juga sudah sembuh’
“Bukan untuk yang sakit itu. Kalau Cuma flu saja dikeroki juga sehat lagi. Tapi coba ke dokter spesialis, karena kamu sepertinya sudah impoten?â€
“Hahhhh…!â€
Aria ingat percakapan dengan isterinya Kartika, lima hari lalu ketika lewat larut [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Karya F.Dewi Ria Utari
(Cerpen Pilihan Kompas 20052-06)
Narpati memasuki Rumah Hujan pertama kali saat usianya lima tahun. Saat itu hari kelima musim kemarau. Ibunya membangunkannya tepat di kokok pertama ayam jago. Ia tak mandi saat itu. Udara kering masih terlalu dingin. Ibunya hanya membilas wajahnya dengan air di bak yang tinggal setengah. Ayahnya pasti lupa menimba [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Kata-kata harus menciptakan makna. Kata tidak sekadar membawa pesan.
Penyair sekaligus cerpenis bukan hal aneh dalam sastra Indonesia modern, walaupun
tidak semua penyair mau dan sanggup menulis cerita pendek. Sutardji Calzoum Bachri
dikenal sebagai penyair, dia juga menulis cerita pendek.
Nama kepenyairan Sutardji lebih besar daripada cerpenis. Bahkan - dalam bahasa
ekstremnya - nama besarnya sebagai penyair telah telanjur [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
TEPUK tangan terdengar satu dua, kadang sayup saja. Lalu menjadi lebih riuh meski tak seperti biasanya. Di papan tulis, tampak dengan jelas nomer, nama dan angka hasil perhitungan pemilihan Ketua Organisasi Parodi yang berlangsung di ruang pertemuan malam itu.
Mata Pak Kurtubi memandang papan itu dengan tak percaya. Berkali-kali diusapnya keringat yang mendadak membasahi wajah [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Lomba Menulis Cerita Pendek
HUT Tabloid PARLE 2007
Dalam rangka ulang tahun yang kedua, Tabloid Mingguan PARLE dan Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP) bekerjasama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), menyelenggarakan “Lomba Menulis Cerita Pendek”.
Persyaratan Umum:
-Lomba terbuka untuk wilayah Jabodetabek
-Kategori Lomba:
1. Tema “Cinta Tanah Air” untuk pelajar sampai dengan usia 19 tahun
2. Tema “Sumber Daya Alam [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Kata orang, malam sering memberi ketenangan. Dalam malam, banyak hal bisa dikerjakan. Menulis tanpa berisik suara anak-anak, jeritan atau tangisan di sinetron televisi atau mengais kenangan dari kediaman kegelapan.
Tapi malam buatku adalah menulis. Menuliskan kenangan yang selalu ingin keluar menyeruak, dan selalu aku tak pernah diberitahu kapan dia akan keluar. Herannya, kenangan yang hadir seringkali [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Tak mudah bagi Anna melupakan senyuman getir laki-laki itu. Sore di bulan Februari yang masih menyisakan kepulan mendung yang tak juga meneteskan hujan, menjadi saksi saat seorang laki-laki berjalan gontai hingga hilang di ujung jalan.
Selalu ada bayangan itu, terutama saat Anna menikmati nyanyian dedaunan di taman tengah kota, di alun-alun Malang yang menjadi tempat persinggahannya [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
S Prasetyo Utomo
Tradisi penciptaan cerpen Indonesia mengalami gelombang pasang surut yang panjang. Puncak-puncak eksperimentasi daya cipta telah diekspresikan para cerpenis kita. Akan tetapi, di antara para cerpenis yang melakukan eksperimentasi cara bertutur, bahasa, dan struktur narasi itu, adalah cerpen-cerpen yang bernapas sosio-religi dan tercatat dalam sejarah sastra?
Ada beberapa kitab yang monumental dalam sejarah sastra, yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Pagi itu, seperti biasanya tak beda dengan sebelumnya. Kalender yang tetap berupa angka-angka, dengan catatan sana sini tentang kegiatan harian di kampus yang juga tak berubah.
Sesaat aku tertegun dan tersadar melihat tanggal yang sengaja kuberi lingkaran spidol biru. Hari ini tepat ulang tahunku ke empat puluh tiga. Hampir saja aku melupakannya. Masih muda, kata [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Kata orang, aku punya wajah menarik dan disukai wanita. Aku ingat itu, ketika masih berusia 12 tahun, ada tetanggaku yang lebih tua enam tahun dariku, mbak Yuni namanya gemas sekali melihatku. Aku sering digodanya. Diciumnya pipiku suatu ketika, dan aku lari dengan wajah semerah senja yang hendak tenggelam menjemput malam.
Tapi bukan karena itu aku lalu [...]
baca selengkapnya |
No Comments »